PENANGANAN TERKINI CROUP ATAU LARINGOTRAKEOBRONKITIS

1520643950146-1.jpgPENANGANAN TERKINI CROUP ATAU LARINGOTRAKEOBRONKITIS

Croup atau laringotrakeobronkitis adalah infeksi pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus pada saluran napas atas. Infeksi ini mengakibatkan pembengkakan di dalam kerongkongan. Pembengkakan mengganggu pernapasan normal; gejala krup yaitu batuk “menyalak”, stridor (bunyi mengi kasar bernada tinggi), dan suara parau. Gejala Croupdapat ringan, sedang, atau berat, dan sering memburuk di malam hari. Dosis tunggal steroid oral dapat mengatasi kondisi ini. Adakalanya epinefrin digunakan dalam kasus yang lebih berat. Jarang diperlukan perawatan di rumah sakit.

Kata croup berasal dari kata kerja Bahasa Inggris Modern Awal croup, yang berarti “menangis dengan suara parau”; nama ini pertama kali digunakan untuk penyakit ini di Skotlandia dan menjadi populer pada abad ke 18. Croup difteritik telah dikenal sejak zaman Yunani Kuno Homer. Pada tahun 1826, Bretonneau membedakan antara croup virus dengan croup akibat difteri. Orang Perancis menyebut croup viral “faux-croup,” dan menggunakan istilah “croup” untuk penyakit yang disebabkan oleh kuman difteri.[9] Croup akibat difteri kini hampir tidak dikenal karena adanya imunisasi yang efektif.

Croup adalah salah satu jenis infeksi saluran pernapasan yang umumnya dialami anak-anak berusia enam bulan hingga tiga tahun namun dapat juga menyerang anak-anak yang berusia lebih tua. Croup umumnya disebabkan oleh virus yang menjangkiti laring atau kotak suara dan trakea atau batang tenggorokan, keduanya merupakan jalan masuk udara ke paru-paru. Infeksi pada saluran pernapasan atas ini mengakibatkan suara batuk yang khas seperti menggonggong.

Croup didiagnosis berdasarkan sejumlah tanda dan gejala, setelah penyebab yang lebih berat dari gejala yang ada telah disisihkan (misalnya, epiglotitis atau benda asing di saluran napas). Investigasi lebih jauh—seperti pemeriksaan darah, rontgen, dan kultur—biasanya tidak diperlukan. Krup merupakan kondisi umum dan dijumpai pada 15% anak-anak, biasanya berusia antara 6 bulan dan 5–6 tahun. Remaja dan orang dewasa jarang menderita Croup. Sekitar 15% anak, biasanya berusia antara 6 bulan dan 5–6 tahun, akan menderita croup. Croup merupakan sekitar 5% penyebab perawatan di rumah sakit untuk kelompok usia ini. Pada kasus yang jarang, anak semuda 3 bulan dan setua 15 tahun dapat menderita croup. Pria 50% lebih sering terkena daripada wanita; croup lebih sering menyerang di musim gugur

Penyebab Croup

  • Penyebab umum croup adalah virus parainfluenza. Dibandingkan virus-virus parainfluenza lain yang berada di dalam keluarganya, virus parainfluenza I merupakan tipe virus yang paling banyak menyebabkan croup. Virus ini menyebar melalui sentuhan dengan orang, benda, atau permukaan apa pun yang telah terkontaminasi. Virus ini juga dapat menyebar melalui udara, melalui bersin, dan batuk. Beberapa virus lain yang dapat memicu croup adalah virus flu (influenza  A dan B), campak, pilek (rhinovirus), enterovirus (penyebab penyakit tangan, kaki, dan mulut), dan RSV (penyebab pneumonia pada bayi).
  • Croup dapat dialami lebih dari satu kali selama masa anak-anak dan umumnya terjadi di saat yang sama dengan merebaknya flu dan pilek. Anak laki-laki lebih banyak terkena penyakit ini dibandingkan anak perempuan. Infeksi virus menyebabkan pembengkakan pada laring dan penyumbatan pada trakea yang dapat berpengaruh juga kepada paru-paru.
  • Selain infeksi virus, infeksi bakteri juga dapat menjadi penyebab. Beberapa kondisi lain juga bisa memicu croup, seperti tanpa sengaja menghirup benda atau zat yang kecil (misalnya kacang), peradangan pada area epiglotis (epiglotitis), dan alergi. Menghirup zat kimia turut dapat menyebabkan peradangan dan memicu kondisi croup, begitu juga dengan keadaan keluarnya asam dari perut menuju tenggorokan atau acid reflux.

1511710098604_crop_610x66-9.jpg

Gejala Croup

  • Croup biasanya dianggap disebabkan oleh infeksi virus. Sebagian orang juga menggunakan istilah ini untuk laringotrakeitis berat, croup spasmodik, difteri laring, trakeitis bakteri, laringotrakeobronkitis, dan laringotrakeobronkopneumonitis. Dua kondisi yang pertama melibatkan virus dan mempunyai gejala yang lebih ringan; empat yang terakhir disebabkan bakteri dan biasanya lebih berat.
  • Virus. Virus parainfluenza, terutama tipe 1 dan 2, adalah virus yang bertanggung jawab dalam 75% kasus croup. Terkadang virus lain dapat menyebabkan croup, di antaranya influenza A dan B, campak, adenovirus, dan respiratory syncytial virus (RSV). Croup spasmodik (croup dengan menyalak) disebabkan oleh kelompok virus yang sama dengan laringotrakeitis, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi yang biasa (seperti demam, nyeri tenggorokan, dan peningkatan jumlah sel darah putih). Perawatan, dan respon terhadap perawatan, adalah sama.
  • Bakteri. Croup akibat bakteri dapat dibagi menjadi difteri laring, trakeitis bakteri, laringotrakeobronkitis, dan laringotrakeobronkopneumonitis. Difteri laring disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae sedangkan trakeitis bakteri, laringotrakeobronkitis, dan laringotrakeobronkopneumonitis pada awalnya disebabkan oleh virus, yang diikuti oleh infeksi bakteri. Bakteri yang paling sering menginfeksi adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenzae, and Moraxella catarrhalis.
  • Gejala krup mencakup batuk “menyalak”, stridor ( bunyi napas kasar bernada tinggi biasanya ketika menarik napas), suara parau, dan sulit bernapas yang biasanya lebih buruk di malam hari. Batuk ‘menyalak” biasanya digambarkan menyerupai lolongan anjing laut atau singa laut. Menangis dapat memperparah bunyi napasnya; mengi dapat berarti bahwa saluran napas menyempit. Ketika krup makin parah, bunyi napasnya mungkin berkurang.
  • Gejala lain termasuk demam, koriza (gejala menyerupai batuk-pilek biasa common cold), dan tertariknya kulit di antara tulang rusuk ke dalam (retraksi).
  • Berliur atau penampakan sakit biasanya menunjukkan kondisi medis yang lain
  • Beberapa gejala yang menyerupai flu dapat dialami anak beberapa hari sebelum timbulnya gejala croup, seperti hidung beringus, sakit tenggorokan, batuk, dan demam yang dapat berlangsung hingga beberapa hari.
  • Gejala umum croup yang kemudian menyertai kondisi ini, antara lain kesulitan bernapas, suara yang serak, suara batuk seperti menggonggong yang keras, dan suara kasar bernada tinggi saat menghirup napas. Suara dan gejala ini akan lebih mudah terdengar dan bertambah buruk saat anak menangis atau ketika mereka tidur di malam hari. Gejala ini dapat berlangsung beberapa hari hingga dua minggu.

Klasifikasi keparahan croup

Skor Westley: Klasifikasi keparahan croup
FITUR NILAI YANG DIBERIKAN UNTUK FITUR INI
0 1 2 3 4 5
Dinding dada
retraksi
Tidak ada Ringan Sedang Berat
Stridor Tidak ada Dengan
agitasi
Saat istirahat
Sianosis Tidak ada Dengan
agitasi
Saat istirahat
Tingkat
kesadaran
Normal Disorientasi
Aliran udara masuk Normal Menurun Sangat menurun
Keparahan/Beratnya Penyakit

Sistem yang paling umum digunakan dalam mengklasifikasikan beratnya croup adalah skor Westley. Pemeriksaan ini lebih digunakan untuk tujuan penelitian daripada praktik klinis. Ini mencakup jumlah nilai yang diberikan atas lima faktor: tingkat kesadaran, sianosis, stridor, aliran udara masuk, dan retraksi. Nilai yang diberikan untuk tiap faktor didaftar di dalam tabel ke kanan, dan skor finalnya bernilai 0 hingga 17.

  • Nilai total sebesar ≤ 2 menandakan croup ringan . Penderita bisa saja mempunyai batuk menyalak dan keparauan, tetapi tidak menunjukkan adanya stridor (napas berbunyi) ketika tidur.
  • Skor total sebesar 3–5 dikelompokkan sebagai croup sedang — napas penderita berbunyi, dengan beberapa tanda lain.
  • Skor total sebesar 6–11 merupakan croup berat . Ini juga muncul dengan bunyi napas yang jelas, tetapi juga disertai dinding dada yang tertarik ke dalam.
  • Skor total ≥ 12 berarti bahwa dapat terjadi gagal napas. Batuk menyalak dan napas berbunyi dapat lenyap di tahap ini
  • 85% dari anak-anak yang masuk ke unit gawat darurat menderita gejala ringan; croup berat jarang dijumpai (<1%).

Diagnosis Croup

  • Croup didiagnosis berdasarkan gejala dan tanda. Langkah pertama adalah menyingkirkan kemungkinan kondisi lain yang dapat menghambat saluran napas atas, khususnya epiglotitis, sesuatu menghambat saluran pernapasan, stenosis subglotis, angioedema, abses retrofaring, dan trakeitis bakteri.
  • Pemeriksaan Rontgen leher tidak rutin dilakukan, tetapi jika dilakukan, dapat menunjukkan penyempitan trakea, yang disebut tanda menara / steeple sign, karena bentuk penyempitannya menyerupai menara gereja. Tanda menara tidak ditemukan pada setengah kasus.
  • Pemeriksaan darah dan kultur virus (pemeriksaan untuk virus) dapat menyebabkan iritasi yang tidak perlu pada saluran napas. Sedangkan kultur virus, yang diperoleh melalui aspirasi nasofaring (prosedur yang menggunakan selang untuk menghisap lendir dari hidung), dapat digunakan untuk memastikan penyebab sesungguhnya. Kultur ini biasanya hanya dilakukan oleh orang yang mengadakan penelitian. Jika seseorang tidak membaik dengan perawatan standar, dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memeriksa adanya bakteri.
  • Pemeriksaan tenggorokan anak yang dilakukan sendiri sangat tidak disarankan karena dapat berdampak buruk kepada saluran udara dan menambah pembengkakan yang membuat bernapas menjadi makin sulit. Bawalah anak ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan gejala yang dialaminya.
  • Mempelajari gejala dan mengecek kondisi fisik pasien, seperti suara batuk dan suhu badan, dapat dilakukan untuk mempersempit dugaan penyebab croup. Dokter mungkin akan melakukan sebuah tes untuk mengetahui kadar oksigen di dalam darah (pulse oxymetry) serta memastikan keperluan perawatan di rumah sakit atau di rumah.
  • Beberapa gangguan lain, seperti gangguan pada saluran udara, abses pada jaringan tenggorokan, dan reaksi alergi memiliki gejala yang serupa dengan croup. Untuk itu beberapa tes tambahan, seperti pemindaian dada atau trakea bagian atas, mungkin dilakukan untuk mengesampingkan faktor yang bukan penyebab kondisi ini.

1515050500012_crop_951x166-6.jpg

Pengobatan Croup

  • Anak penderita croup harus dijaga agar setenang mungkin. Steroid diberikan secara rutin, dengan penggunaan epinefrin pada kasus yang berat. Anak dengan saturasi oksigen (kandungan oksigen dalam darah) di bawah 92% harus diberi oksigen, dan orang yang menderita croup berat dapat dirawat untuk observasi. Jika oksigen diperlukan, dianjurkan pemberian secara “blow-by” (memegang sumber (selang) oksigen di dekat wajah anak), karena mengurangi agitasi yang timbul dalam penggunaan masker oksigen. Dengan perawatan, kurang dari 0,2% orang membutuhkan intubasi endotrakeal (pemasangan selang ke dalam saluran pernapasan)
  • Segera temui dokter jika anak Anda mengalami gejala yang lebih serius, seperti sesak napas dengan jarak mengambil napas yang terlalu dekat sehingga anak susah berbicara maupun makan atau minum. Dengarkan suara dada anak untuk mengecek suara napas, irama detak jantung yang bertambah cepat atau sebaliknya. Perhatikan anak yang menjadi resah, mudah merasa terganggu, serta selalu merasa lelah dan mengantuk. Batuk yang bertambah parah, demam, kulit yang berubah warna menjadi membiru atau pucat, serta tulang dada dan rusuk yang makin terlihat  juga bisa dianggap sebagai gejala yang membutuhkan tindakan medis secepatnya.
  • Pemberian cairan yang cukup diperlukan dalam menangani croup ringan di rumah untuk mencegah dehidrasi pada anak. Air putih, ASI, atau susu formula dapat diberikan pada anak bayi maupun anak yang lebih besar. Buatlah anak merasa nyaman dan tenang karena menangis dapat menambah parah gejala kondisi ini. Dokter dapat memberikan jenis obat kortisteroid oral yang akan membantu meredakan pembengkakan di tenggorokan dan parasetamol khusus anak untuk meredakan demam serta rasa sakit yang muncul.
  • Perhatikan efek samping akibat pemberian obat-obatan ini, seperti gelisah, pusing, gangguan pada perut, dan muntah. Obat-obatan ini juga tersedia dalam bentuk cairan dan dapat diperoleh secara bebas di apotek atau supermarket. Jangan berikan obat batuk atau dekongestan karena dapat membahayakan kondisi anak yang sedang mengalami kesulitan bernapas. Anak yang berusia di bawah 16 tahun sebaiknya tidak diberikan aspirin. Bicarakan bersama dokter atau apoteker mengenai jenis obat yang sesuai untuk kondisi dan usia anak Anda.
  • Anak yang terus mengalami gangguan pernapasan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter karena dapat memerlukan penanganan lebih lanjut di rumah sakit. Suntikan adrenalin melalui nebulizer dapat mengurangi gejala croup yang makin parah. Anak akan menghirup obat dalam bentuk titik-titik air kecil.
  • Pada kasus lainnya, anak dapat memerlukan intubasi, yaitu dimasukannya sebuah selang melalui lubang hidung atau mulut hingga melewati trakea untuk mempermudah pernapasan. Proses ini membutuhkan pembiusan umum agar anak tidak merasa takut dan sakit.
  • Kasus kematian anak akibat croup sangat jarang ditemukan karena pada sebagian besar kasus, kondisi ini akan membaik dengan sendirinya dalam waktu 48 jam. Gejala croup dapat berlangsung hingga dua minggu dan jika tidak segera diobati croup dapat menimbulkan komplikasi seperti infeksi telinga bagian tengah atau pneumonia. Jika setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit kondisi anak tidak kunjung membaik, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari kemungkinan gangguan lain, misalnya pemeriksaan X-ray di area leher dan dada.
  • Steroid. Kortikosteroid, seperti deksametason dan budesonide, dapat digunakan untuk pengobatan croup. Manfaat yang signifikan diperoleh paling cepat enam jam setelah pemberian. Walaupun obat-obatan ini dapat diberikan secara oral (melalui mulut), secara parenteral (melalui suntikan), atau melalui inhalasi, tetapi cara oral lebih dipilih. Biasanya hanya dibutuhkan dosis tunggal, dan umumnya dianggap cukup aman. Deksametason pada dosis 0, 15; 0,3; dan 0,6 mg/kg tampaknya sama baiknya.
  • Epinefrin. Croup sedang hingga berat dapat ditolong dengan dinebulisasi epinefrin (larutan hirupan yang memperlebar saluran napas). Walaupun epinefrin biasanya mengurangi keparahan croup dalam 10–30 menit, namun manfaatnya hanya bertahan selama 2 jam. Jika kondisinya tetap membaik selama 2–4 jam setelah pengobatan dan tak muncul komplikasi, biasanya anak tersebut boleh meninggalkan rumah sakit.
  • Pengobatan lain untuk croup telah diteliti, tetapi belum cukup bukti untuk mendukung penggunaannya. Menghirup uap panas atau udara yang dilembabkan merupakan pengobatan perawatan-diri tradisional, tetapi uji klinis telah gagal membuktikan efektivitasnya dan kini jarang digunakan.
  • Penggunaan obat batuk, yang biasanya mengandung dekstrometorfan dan/atau guaifenesin, juga tidak meyakinkan.
  • Meskipun dahulu helioks (campuran helium dan oksigen) digunakan untuk meringankan usaha napas, sangat sedikit bukti yang mendukung penggunaannya.
  • Karena biasanya croup disebabkan oleh virus, antibiotik tidak digunakan kecuali juga diduga ada bakteri.
  • Antibiotik vankomisin dan sefotaksim dianjurkan untuk infeksi bakteri.
  • Dalam kasus berat yang terkait dengan influenza A atau B, antivirus penghambat neuraminidase dapat diberikan

Komplikasi Croup

  • Walau jarang, croup dapat menyebabkan gangguan saluran napas yang berujung pada gangguan napas berat, bahkan gagal napas. Kondisi gagal napas ditandai dengan terhentinya pernapasan, namun jantung tetap berdetak.
  • Komplikasi lainnya adalah peradangan pada salah satu atau kedua jaringan paru-paru yang dikenal dengan penyakit pneumonia. Infeksi lainnya adalah bakteri trakeitis (peradangan pada trakea), infeksi telinga tengah, dan lymphadenitis (peradangan pada kelenjar getah bening).
  • Croup karena virus biasanya berlangsung singkat; croup jarang mengakibatkan kematian karena gagal napas dan/atau henti jantung. Gejala biasanya membaik dalam dua hari, namun dapat bertahan hingga tujuh hari. Komplikasi tidak umum lainnya mencakup trakeitis bakteri, pneumonia, dan edema paru.

Pencegahan Croup

  • Menjaga kebersihan serta menjauhkan anak dari penderita lainnya adalah hal utama dalam pencegahan penyebaran croup. Seperti halnya flu, penyakit ini dapat menyebar dengan mudah jika Anda tidak rajin membiasakan anak untuk rajin mencuci tangan. Anjurkan anak untuk mengarahkan bersin ke area siku untuk mengurangi risiko penularan virus ke orang lain. Selain itu, vaksinasi rutin juga menjadi satu cara lain melindungi anak dari jenis infeksi pemicu kondisi croup. Beberapa vaksin anak yang memiliki pencegahan ini, antara lain vaksin MMR untuk perlindungan dari campak, campak jerman atau rubella, dan gondongan. Lalu vaksin DtaP/IPV/Hib untuk perlindungan dari tetanus, polio, difteri, batuk rejan, dan Haemophilus influenzae type b penyebab pneumonia.

Referensi

  1. Rajapaksa S, Starr M (2010). “Croup – assessment and management”. Aust Fam Physician39 (5): 280–2. PMID 20485713. Parameter |month= yang tidak diketahui diabaikan (bantuan)
  2. Cherry JD (2008). “Clinical practice. Croup”. N. Engl. J. Med358 (4): 384–91. doi:10.1056/NEJMcp072022. PMID 18216359.
  3. “Diagnosis and Management of Croup” (PDF). BC Children’s Hospital Division of Pediatric Emergency Medicine Clinical Practice Guidelines.
  4. Everard ML (2009). “Acute bronchiolitis and croup”. Pediatr. Clin. North Am56 (1): 119–33, x–
  5. Johnson D (2009). “Croup”. Clin Evid (Online)2009. PMC 2907784 Dapat diakses secara gratis. PMID 19445760.
  6. Klassen TP (1999). “Croup. A current perspective”. Pediatr. Clin. North Am46 (6): 1167–78.
  7. Russell KF, Liang Y, O’Gorman K, Johnson DW, Klassen TP (2011). Klassen, Terry P, ed. “Glucocorticoids for croup”. Cochrane Database Syst Rev1 (1): 
  8. Port C (2009). “Towards evidence based emergency medicine: best BETs from the Manchester Royal Infirmary. BET 4. Dose of dexamethasone in croup”. Emerg Med J26 (4): 291–2.
  9. Marchessault V (2001). “Historical review of croup”. Can J Infect Dis12 (6): 337–9. 
  10. Vorwerk C, Coats T (2010). Vorwerk, Christiane, ed. “Heliox for croup in children”. Cochrane Database Syst Rev2 (2): 
  11. Online Etymological Dictionary, croup. Accessed 2010-09-13.
  12. Feigin, Ralph D. (2004). Textbook of pediatric infectious diseases. Philadelphia: Saunders. hlm. 252.

1520643950146-1.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s