Skiatika, Nyeri saraf Panggul, Gejala dan Penyebabnya

Skiatika, Nyeri saraf Panggul, Gejala dan Penyebabnya

Skiatika (sciatica) adalah rasa nyeri yang terjadi di sepanjang jalur saraf panggul (sciatic nerve). Saraf panggul merupakan saraf terpanjang pada tubuh dan letaknya berada di belakang tulang panggul, bokong, hingga ke tungkai. Umumnya, nyeri skiatika dirasakan pada bokong dan area kaki. Skiatika adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan rasa sakit atau mati rasa yang berasal dari punggung bagian bawah dan menjalar ke pantat dan saraf skiatik yang terdapat di belakang masing-masing kaki. Nyeri kaki sering melewati lutut dan mungkin menuju ke kaki. Kelemahan pada otot kakidan pincang bisa menjadi tanda skiatika.

Skiatika dapat terjadi ketika saraf terjepit atau atau adanya gangguan lain yang menekan saraf panggul. Tingkat keparahan nyeri ini dapat bervariasi, dari ringan hingga berat.

Saraf skiatik adalah saraf terbesar di tubuh dan berukuran seukuran jari kelingking. Saraf skiatika keluar dari kolumna spinalis dan kemudian pergi ke belakang sendi pinggul, ke bawah pantat, dan ke bagian belakang tungkai ke kaki.

Skiatika berbeda dengan bentuk nyeri punggung bawah lainnya karena rasa sakit paling sering dimulai di punggung, lalu biasanya berjalan turun ke salah satu anggota gerak bawah, sehingga khas sekali disebut dengan “nyeri yang menjalar (nyeri radiasi)”, yaitu rasa nyeri yang menjalar seperti aliran listrik. Namun, rasa nyeri juga bisa seperti terbakar api atau tergelitik seperti perasaan saat kesemutan. Rasa sakit bisa berkisar dari sedikit iritasi hingga tak tertahankan. Beberapa orang memiliki rasa sakit di salah satu bagian kaki dan mati rasa di bagian lain dari kaki yang sama.

Pada umumnya skiatika dapat pulih dengan penanganan mandiri dalam waktu sekitar enam minggu. Namun dalam beberapa kasus, diperlukan tindakan operasi, terutama untuk skiatika yang terkait dengan gangguan pada usus atau kandung kemih, atau disertai dengan kelemahan pada tungkai.

Gejala Skiatika

  • Gejala skiatika ditandai dengan rasa nyeri dan tidak nyaman di sepanjang jalur saraf panggul. Rasa nyeri tersebut dapat ringan, terasa panas, atau seperti tersengat listrik. Nyeri biasanya akan meningkat ketika penderita duduk lama, bersin, atau batuk.
  • Kesemutan yang menjalar dari punggung hingga kaki.
  • Otot tungkai dan kaki menjadi lemah.
  • Mati rasa atau kebas.

Penyebab Skiatika

  • Skiatika terjadi ketika saraf pada tulang panggul tertekan. Kondisi itu umumnya disebabkan karena piringan sendi yang bergeser dari posisinya (slipped disc), saraf terjepit (herniated disc) di mana bagian tengah piringan sendi keluar dari jalurnya, atau pertumbuhan taji tulang pada tulang belakang (bone spurs).
  • Sedangkan penyebab skiatika lainnya, meski jarang terjadi, meliputi pertumbuhan tumor pada tulang belakang, penyempitan jalur saraf pada tulang belakang (spinal stenosis),keluarnya tulang belakang dari posisinya (spondylolisthesis), cedera atau infeksi tulang belakang, serta gangguan pada saraf sumsum tulang belakang (cauda equine syndrome).
    • Hernia diskus: Herniasi diskus adalah penyebab skiatika yang paling sering.
      • Diskus adalah bantalan di antara tulang belakang. Mereka bertindak seperti “peredam guncangan” saat kita bergerak, membungkuk, dan mengangkat. Diskus seperti bantalan pada tulang belakang.
      • Diskus terdiri dari 2 bagian: Bagian luar adalah cincin keras, dan bagian dalam adalah suatu bantalan lunak seperti jelly(disebut nukleus pulposus). Jika tepi luar diskus pecah, nukleus pulpsus dapat terdorong keluar dan memberi tekanan pada saraf skiatik, yang menyebabkan rasa sakit pada skiatika (disebut herniasi nukleus pulposus, disingkat HNP).
    • Stenosis spinal lumbal, yaitu penyempitan saluran yang berisi sumsum tulang belakang di area lumbal (punggung bawah): Dengan bertambahnya usia, tulang bisa tumbuh berlebih dan memberi tekanan pada saraf skiatik. Banyak orang dengan stenosis tulang belakang mengalami skiatika di kedua sisi punggung.
    • Spondilolistesis, yaitu suatu kondisi di mana satu tulang belakang telah bergeser ke depan atau ke belakang di atas tulang belakang yang lain sehingga menyebabkan tekanan pada saraf skiatik.
    • Saraf skiatik yang terjepit atau terentang.
    • Sindrom piriformisdapat menyebabkan saraf skiatik terjebak dalam pantat oleh otot piriformis. Gejala sindrom piriformis sama dengan skiatika. Skiatika juga bisa disebabkan oleh saraf yang terjepit karena proses osteoarthritis dan patah tulang karena osteoporosis.
    • Skiatika juga bisa disebabkan oleh efek penuaanlainnya, seperti osteoartritisdan patah tulang karena osteoporosis.
    • Banyak wanita mengalami skiatika saat hamil.
    • Skiatika juga dapat merupakan gejaladari masalah yang jauh lebih serius, seperti tumorgumpalan darah, atau abses, namun kondisi yang disebutkan terakhir ini adalah kondisi-kondisi yang jarang terjadi.

Faktor Risiko Skiatika

Sejumlah kondisi berikut ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami skiatika, di antaranya:

  • Duduk terlalu lama. Orang yang terlalu lama duduk memiliki risiko lebih besar untuk menderita skiatika dibandingkan orang yang aktif.
  • Diabetes. Kondisi ini berisiko memicu terjadinya kerusakan saraf.
  • Kerja berat. Orang yang sering mengangkat beban berat atau berkendara dalam waktu yang lama berpotensi menderita skiatika.
  • Obesitas. Pertambahan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada tulang belakang sehingga memicu skiatika.
  • Usia. Pertambahan usia dapat menyebabkan seseorang rentan terhadap gangguan tulang belakang, seperti saraf terjepit atau pertumbuhan taji tulang pada tulang belakang.

Diagnosis Skiatika

Skiatika dapat didiagnosis melalui peninjauan gejala dan riwayat kesehatan pasien, serta pemeriksaan fisik (termasuk pemeriksaan kekuatan otot dan refleksnya). Sedangkan tes lanjutan dengan pemindaian akan dilakukan guna memastikan diagnosis secara tepat. Beberapa metode pemindaian tersebut adalah:

  • Elektromiografi (EMG), untuk mengukur impuls listrik yang dihantarkan saraf serta respon dari otot.
  • MRI, untuk menghasilkan gambar tulang dan jaringan lunak secara detail dengan menggunakan gelombang radio.
  • Foto Rontgen, untuk mengetahui adanya suatu gangguan yang menekan saraf tulang belakang.
  • CT myelogram. Pemeriksaan sinar-X dengan yang dikombinasikan dengan zat kontras atau pewarna, untuk melihat gambaran tulang belakang dan saraf-sarafnya secara lebih jelas.

Pengobatan Skiatika

Sebagian besar kasus skiatika dapat pulih dalam waktu enam minggu tanpa memerlukan pengobatan dari dokter. Penanganan mandiri bisa dilakukan dengan cara memakai kompes hangat atau dingin atau mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas di apotik. Selain itu, penderita disarankan untuk tetap melakukan aktivitas fisik atau olahraga untuk mempercepat proses penyembuhan, namun dengan porsi yang disesuaikan dengan kondisi tubuh.

Jika cara di atas tidak dapat mengatasi gejala skiatika, maka kemungkinan dokter akan menganjurkan beberapa pilihan penanganan melalui:

  • Pemberian obat. Obat yang umumnya diresepkan adalah antiinflamasi, penenang otot (misalnya diazepam), antikejang (misalnya gabapentin dan pregabalin), atau antidepresan.
  • Suntikan steroid. Suntikan ini diberikan untuk meredakan nyeri dan peradangan di sekitar saraf yang terganggu.  Namun pemberian suntikan biasanya akan dibatasi karena berisiko menimbulkan efek samping yang serius.
  • Operasi. Jika skiatika menyebabkan nyeri yang semakin buruk, inkontinensia urineatau inkontinensia tinja, serta tubuh menjadi sangat lemah meski telah diobati , maka dokter biasanya akan menganjurkan operasi. Tindakan ini bertujuan untuk menghilangkan pertumbuhan tulang, mengatasi saraf terjepit, atau mengatasi kondisi lain yang menekan saraf tulang belakang. Operasi yang biasa dilakukan yaitu:
    • Operasi untuk menghilangkan bagian piringan sendi yang menekan saraf (discectomy).
    • Operasi untuk menggabungkan tulang belakang yang keluar dari posisinya (fussion surgery)
    • Operasi untuk menghilangkan bagian tulang belakang atau lamina (laminectomy)untuk menangani stenosis spinal.

Ketika kondisi penderita membaik pasca pengobatan, dokter biasanya akan menyarankan program rehabilitasi fisik guna mencegah cedera lanjutan. Terapi fisik juga akan dipusatkan untuk menguatkan otot yang menopang tulang belakang, memperbaiki postur tubuh, serta meningatkan kelenturan tubuh.

Untuk mencegah kambuhnya skiatika, program rehabilitasi fisik tersebut harus dikombinasikan dengan upaya-upaya di rumah, seperti berolah raga secara teratur dengan melakukan peregangan sebelum dan sesudah latihan, memperbaiki postur tubuh dan cara mengangkat beban, serta menggunakan tempat tidur dengan permukaan yang cukup keras untuk menopang beban bahu, bokong, dan menjaga tulang belakang tetap lurus.

Komplikasi Skiatika

Komplikasi yang berisiko muncul dari kasus skiatika adalah kerusakan saraf secara permanen yang ditandai dengan:

  • Kelemahan pada tungkai.
  • Tungkai menjadi mati rasa.
  • Usus besar dan kandung kemih yang tidak berfungsi lagi.

1520642174064-1.jpgwp-1518337561189..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s